"Message from The Angels"

Welcome to the world of The Angels, just read and leave a comment n don't speak to anybody else....


from : Seraphime

Minggu, 02 Agustus 2009

aku mendengar suara itu, sesuatu yang patah
terdengar sangar menyeramkan
seperti suatu suara yang terkoyak
sepertinya itu tulangku, tapi aku tidak merasakan apapun
mungkin belum
tapi
aku mulai manyadari, kesakitan itu mulai merayapi saraf-sarafku
mulai menggerogoti kendali diriku
aku berteriak sekeras kerasnya untuk meredakan semua siksaan ini
aku berharap agar otot-otot leherku putus dan rasa sakit ini lenyap
tapi apa yang kudapat
rasa itu semakin menghimpitku, dan suaraku pun lenyap tak berbekas
sejenak sakit itu hilang, dan aku menyadari bahwa tembok ketidaksadaran menghujamku dari atas
aku pun tak sadarkan diri
tapi aku sempat mengenang saat-saat terkhir itu

aku tahu hidupku sudah hancur
semuanya sirna, direnggut secara paksa dari hidupku
aku tak lagi bisa hidup, tanpa semua itu
kehilangan adalah pemicu utama tindakan bodohku
kebahagiaan telah terbang melayang dari hidupku
kehangatan dan ketentraman telah tenggelam ke dasar samudra
semua lenyap, dan gelap
kesunyian menutup telingaku
dan kegelapan menutup mataku
apa yang bisa kuperbuat
selain pergi meninggalkan dunia ini
meninggalkan semua kenangan indah yang berakhir menyakitkan
begitu singkat dan berbekas di hatiku yang terdalam
aku yakin, seandainya aku masih mau melanjutkan prjalanan hidupku
rasa sakit itu tak akan pernah pudar dari hatiku
kebencian yang mendalam itu akan terus menggerogoti tubuhku
dan mungkin hatiku dan jiwakau telah tiada
hanya raga yamg berjalan karena amarah
apa yang bisa kupilih
kematian atau hidup sebagai manusia keji
mungkin memang bukan aku yang keji, tapi aku tak mau menjadi monster
mungkin memang hidupku telah usai
walau belum sampai di garis finisnya
aku tau semua telah usai, ketika semuanya direnggut dariku
dan aku pun terjatuh ke dalam lembah yang paling kelam

sasaat aku tersadar
karena sakit itu kembali menghujamku
perih dan aku tak tahu, kata apalagi yang mampu menggambarkan semua penderitaan ini
aku menyesal karena ingin menghampiri kematian
melawan kehendak Tuhan
aku baru menyadari bahwa garis finis hidupku belumlah ku capai
bahkan mungkin masih sangat jauh
tapi aku membuat garis itu sendiri, karena keresahan dan gundah gulana yang kurasa
aku rela hidup kembali dan menanggung semua penderitaan mental itu
dari pada harus merasakan rasa ini
hujaman-hujaman seakan-akan mendarat di sekujur tubuhku
seakan-akan tubuh ku di remukan
lama kelamaan, aku mulai mendambakan kematian
aku mulai bisa merasakannya
kegelapan itu mulai menggantung di pelupuk mataku
mulai mengisap ku ke dalamnya
rasa sakit itu muncul lagi, tapi teriakanku kali ini sia-sia
suaraku tak terdengar, hanya kesunyian yang terdengar
mata ku muali kabur, dan gelap gulita menguasi
tapi aku masih bisa merasakan tubuhku
jadi aku tahu aku belum mati
lambat namun pasti, kegelapan mulai menyelubungiku
serangan hujaman itu mulai mereda
tapi ketakutan mulai merayapi hatiku
aku khawatir dimana diriku setelah kesunyian menelanku, setelah kegelapan menenggelamkanku
aku bimbang
tapi apalah usahaku
saat kematian menyedotku
nafasku mulai sesak dan perlahan aku terlelap
kesadaranku mulai menghilang sedikit demi sedikit
aku seperti mengantuk karena lelah
bayangan kelam masa lalu melintas dalam benakku
dan aku tahu, sebentar lagi aku akan pergi meninggalakn semuanya yang telah berakhir di bumi ini
karena tembok kegelapan menindasku hingga ke dasar kekelaman
aku merasa bahwa jantungku tak lagi berdetak
seakan-akan bukan hanya jantungku yang terdiam
tapi paru-paru ku pun tidak bisa menampung udara yang ku hisap
aku merasa aku bernafas dengan sia-sia
seolah-olah seluruh organ ku direnggut dengan paksa
hilang dan menyisakan luka yang berdarah-darah
bukan hanya perih, tapi sungguh menyakitkan
sungguh, hanya kematian yang diharapkan
semuanya seperti sirna
semua perjalanan hidupku
terhempas hingga ke tanah
terbentur dan pecah
hancur menjadi debu
pengalaman yang aku rasakan seolah-olah sirna, bahkan apabila aku harus mengalami ini
lebih baik aku tidak usah hadir ke dunia
seakan-akan eksistensiku di dunia tdak lagi diperhitungkan
semuanya hampa
sia-sia belaka

tanpa-Mu aku akan seperti itu
aku tahu bahwa cinta-Mu menenggelamkanku hingga ke dasar
aku tidak takut, kalau aku harus tenggelam
aku malah ingin lebih lagi tenggelam dalam cinta-Mu, karena cinta-Mu membebaskanku
kemulaian-Mu menyilaukan mataku
tapi aku suka itu semua
bahkan aku sangat mencintai dan merindukan perjumpaanku dengan Mu
apalagi saat cinta-Mu mengubahkanku